Pemadaman dilakukan oleh tim gabungan yang terdiri dari personel Polri, petugas TNBTS, dan Masyarakat Peduli Api (MPA). Meski api telah berhasil dikendalikan, pemantauan tetap dilakukan untuk mengantisipasi munculnya titik api baru di kawasan konservasi tersebut.
Kapolres Lumajang AKBP Riki Yariandi mengatakan, sebanyak 55 personel gabungan dikerahkan untuk menangani kebakaran di kawasan Ranupani.
"Kami menerjunkan 25 personel Polri yang berkolaborasi langsung di lapangan bersama 20 anggota Masyarakat Peduli Api (MPA) dan 10 petugas TNBTS," kata Riki di Lumajang, Kamis (22/10/2026).
Menurut Riki, upaya pemadaman menghadapi tantangan medan kawasan hutan. Untuk mendukung proses tersebut, tim gabungan membawa empat unit tandon air berkapasitas masing-masing 1.000 liter serta empat unit alat semprot pemadam kebakaran.
Peralatan tersebut digunakan untuk membantu proses pemadaman sekaligus menyisir area terdampak guna memastikan tidak ada bara api yang berpotensi memicu kebakaran susulan.
"Berkat kerja keras seluruh tim di lapangan, luas area terdampak dapat dilokalisir di kisaran tiga hektare dan seluruh rangkaian kegiatan pemadaman berjalan dengan aman serta lancar," ujarnya.
Keberhasilan pemadaman belum membuat pengawasan dihentikan. Polres Lumajang tetap menyiagakan personel untuk memantau perkembangan situasi di kawasan TNBTS Resor Ranupani secara berkala.
Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya kembali titik api, terutama di area yang masih berpotensi menyimpan bara setelah kebakaran.
Riki juga mengingatkan masyarakat dan wisatawan agar meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di kawasan konservasi. Menurutnya, perilaku yang berpotensi memicu kebakaran perlu dihindari demi menjaga kelestarian hutan.
"Kami mengimbau kepada seluruh masyarakat dan pengunjung kawasan TNBTS untuk tetap waspada dan tidak melakukan aktivitas yang memicu timbulnya titik api baru. Kami akan terus memantau perkembangan situasi karhutla ini secara intensif dan melaporkan update kondisi terkini pada kesempatan pertama," pungkasnya.
Kebakaran di Blok Bantengan menjadi pengingat pentingnya pengawasan kawasan hutan, khususnya di wilayah konservasi yang memiliki fungsi ekologis penting. Upaya pencegahan dan pemantauan berkelanjutan diperlukan agar kebakaran tidak meluas dan menimbulkan kerusakan lingkungan yang lebih besar.


▶
▶
▶
▶
▶
▶
▶





Narative.id Jawa Timur · Hukum & Keamanan
Narative.id Pemalang · Pendidikan
Narative.id Lumajang · Warga & Sosial
Narative.id Malang · Lingkungan & Bencana
NARATIVE.ID · Teknologi & Kreatif
Narative.id Pemalang · Kebijakan & Politik
Narative.id Malang · Lingkungan & Bencana
Narative.id Pemalang · Kebijakan & Politik

KOMENTAR (0)
MASUKDAFTAR